Menapak Jejak Tionghoa di Palu Lewat Sejarah Keluarga

FOTO: Oe Khian (Toke Kiala). REPRO: My Heritage 

Beberapa bulan sebelum wafat, ayah saya, Mohammad Ceng Putong (63)[1], bercerita tentang kakek buyut, kakek dan ayahnya. Cerita ini akan saya revisi dan tambahkan, sesuai data baru yang saya temukan[2].

Kakek buyutnya, Oe Khian (Toke Kiala)[3] datang dari Cina daratan. Diperkirakan, Oe Kian berasal dari wilayah Fujian di selatan Cina. Perkiraan ini berdasar pada temuan bahwa marga Oe merupakan bentuk penulisan lain dari marga Yu. Adapun bentuk penulisan lain marga Yu, yakni Ee (Hokkian dan Teochiu), Eu (Hokkian), Ie (Hokkian dan Teochiu), Oe (Hokkian dan Teochiu), Yee (Kanton), serta
Yi (Hakka)[4].

Oe Khian lalu menikah dengan Albertina Putung, gadis asal Tangkunei[5], Minahasa, Sulawesi Utara, lalu kemudian hijrah ke Palu sekira awal abad 20[6]. Jejak keturunan Albertina Putung berpangkal pada Kalengkoan. Kalengkoan menurunkan Lumewan, Lumewan menurunkan Wonok, Wonok menurunkan Sindiman (Lita), Sindiman menikah dengan Aurelius Putung menurunkan Onesimus Putung. Onesimus Putung menurunkan Albertina Putung[7].

Di Palu, mereka tinggal di kawasan pemukiman masyarakat Tionghoa, di kawasan Ujuna[8]. Wilayah Ujuna sendiri merupakan wilayah konsentrasi pemukiman masyarakat Tionghoa di Palu[9]. Jumlah penduduk Ujuna mencapai 828 jiwa, dengan mayoritas penduduk adalah Suku Kaili berdialek Ledo[10]. Jika total 331 jiwa orang Tionghoa di Lanskap Palu semuanya bermukim di Ujuna, maka dari total 828 jiwa penduduk Ujuna pada 1930, persentase orang Tionghoa yang tinggal di Ujuna mencapai 39.97 persen[11].

Pemerintah Hindia Belanda sendiri melokalisir pemukiman masyarakat tempatan, berdasarkan kelompok etniknya masing-masing. Wilayah Ujuna misalnya, diperuntukkan sebagai kawasan pemukiman bagi masyarakat Tionghoa, wilayah Bandjar[12] (Banjar) diperuntukkan bagi orang Banjar, wilayah Baru dan Kamonji yang diperuntukkan bagi orang Arab, wilayah Loloe (Lolu) bagi orang Minahasa dan Eropa, serta wilayah Lere dan Besoesoe (Besusu) dan kawasan pesisir, bagi masyarakat keturunan Bugis, Makassar dan Mandar. Masing-masing kelompok etnik memiliki pemimpin yang disebut sebagai kapitan/kapten[13].

Toke Kiala membuka bengkel dan diklaim saat itu merupakan bengkel mobil pertama yang dimiliki oleh orang Tionghoa di Palu[14]. Lokasi bengkel itu, saat ini berada di Jalan Gajah Mada[15], tepatnya di lokasi yang kini ditempati oleh UD Madju[16]. Selain bengkel, Toke Kiala juga menekuni usaha ekspedisi darat jurusan Palu - Tinombo - Parigi pada kurun 1930-an hingga 1940-an[17].

Toke Kiala meninggal akibat dipukuli tentara Jepang, karena menolak kerja paksa[18]. Dari pernikahannya dengan Albertina Putung, lahir seorang anak perempuan bernama Maria Alberta Putung, pada 20 Agustus 1906 di Menado, yang kemudian dikenal dengan nama panggilan Oma Pepa[19]. Maria Alberta Putung lahir dengan nama kelahiran yakni Oe Kim Lian Nio[20].

Oe Kim Lian Nio memiliki saudara kandung seayah bernama Oe Kiem Sun Nio (Loes), yang lahir di Palu pada 28 Juli 1936. Loes menikah dengan Joost de Weerd dan menetap di Zaandam, Belanda, hingga akhir hayatnya pada 10 April 2022 lalu. 

FOTO: Engelbert Lie Eng Tjhiang dan Maria Alberta Putung. 
REPRO: My Heritage

Maria Alberta Putung menikah dengan lelaki Tionghoa asal Banjarmasin[21], Lie Eng Tjhiang[22], pada 19 Juli 1927 di Donggala. Lie Eng Tjhiang bekerja sebagai tukang reparasi jam, yang beroperasi di kawasan Ujuna[23]. Keahlian reparasi jam ini, kemudian menurun kepada dua anak lelaki nya dan seorang cucunya[24]. Keduanya juga tinggal di kawasan Ujuna[25]. Saat menikah dengan Maria Alberta Putung, nama Lie Eng Tjhiang ditambahkan menjadi Engelbert Lie Eng Tjhiang[26]

FOTO: Akte Pernikahan Engelbert Lie Eng Tjhiang dan Maria Alberta Putung.
FOTO: Dok. Keluarga Putong.

Maria Alberta Putung membantu ekonomi keluarga dengan berjualan kue dan makanan[27]. Keduanya memiliki 12 orang anak, salah satunya Yosefien (Lie Fien Nio) Putung (Putong), yang merupakan anak ke empat dari dua belas bersaudara[28]Proses perubahan Putung menjadi Putong, berawal dari kesalahan pendataan oleh Pencatatan Sipil, saat salah seorang anggota keluarga, yakni anak kelima Engelbert Lie Eng Tjhiang, Lie Soen Seng, hendak berganti nama, dari nama Tionghoa ke nama Indonesia, yakni Albert Lie Putong[29].

FOTO: Pose keluarga Engelbert Lie Eng Tjhiang. FOTO: DOK. Keluarga Putong 

Yosefien kemudian menikah dengan lelaki Tionghoa asal Allu, Jeneponto, Sulawesi Selatan, Oei Seng Hok[30] (Teo Marana). Keluarga Oei merupakan salah satu dari keluarga-keluarga elit Tionghoa di Makassar, pada paruh pertama abad ke-19, bersama keluarga Nio, Lie, Thio, Que, Lim, Yo, Ong, Tjoa, dan Tja (Tjia)[31].

Ayah Teo menikah dengan wanita muslim dari Allu. Dalam kesehariannya, Teo mendapat nama panggilan sebagai Baba Oei. Sebutan Baba digunakan oleh kelompok peranakan Tionghoa muslim, mengikuti bahasa Persia. Selain Baba, juga digunakan sebutan Intje (Ince) atau Antje/Entje, yang merupakan sebuah panggilan Tionghoa[32].

Teo bekerja sebagai juru timbang kopra di Coprafonds (PKK), Palu yang terletak di Talise (sekarang Kelurahan Talise)[33]. Pekerjaan ini membuatnya menempati rumah di kawasan Kampung Baru, yang di kemudian hari ditempati oleh keluarga mantan Gubernur Sulteng, Abdul Aziz Lamadjido[34]. Yosefin membantu ekonomi keluarga dengan menjahit dan menjadi petugas gizi di RS Palu yang masih berlokasi di Jalan Sultan Hasanuddin (kini kompleks pertokoan)[35].

Dari rumah di Kampung Baru, mereka pindah ke rumah kontrakan tepat di depan jalan menuju THU (Tempat Hiburan Umum), di kawasan Ujuna[36]. Mereka sempat membeli tanah untuk dijadikan rumah tinggal di kawasan Kalikoa (sekarang Jalan Sungai Lariang, dekat tukang gigi), namun rumah tersebut belum selesai, Teo membeli sebuah rumah dengan uang hasil menjual lahan itu, di kawasan Ujuna (sekarang di samping Toko Orchid, Jalan Sungai Gumbasa, Kelurahan Ujuna)[37].

Selepas kerja di Coprafonds, Teo menjadi karyawan PT Sindo dengan penempatan di wilayah Poso[38]. Setelah dari PT Sindo, Teo menjadi kusir dokar yang beroperasi di kawasan Palu Barat[39]. Sebelum meninggal, dia sempat pulang ke Makassar dan kemudian meninggal dan dimakamkan di Pemakaman Kristen Takalar[40].

 



[1] Mohammad Ceng Putong lahir di Palu, 31 Maret 1958 dan meninggal dunia di Palu, 26 Desember 2021.

[2] Tulisan ini merupakan tulisan dinamis yang selalu bergerak, sesuai dengan data yang dikumpulkan.

[3] Wawancara dengan Paulus Putong, 7 Februari 2022. Paulus Putong adalah salah seorang cucu dari Oe Khian.

[4] Tanpa Nama, Asal Usul Marga Oe, diakses melalui https://www.tionghoa.com/tag/marga-oe/, 7 Februari 2022.

[5] Tangkunei kini merupakan salah satu desa di Kecamatan Tumpaan, Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara.

[6] Wawancara dengan Moh. Ceng Putong, 26 September 2021. Moh. Ceng Putong merupakan salah seorang cicit dari Oe Khian. Cerita ini ia ceritakan kembali, berdasarkan cerita dari pamannya, Albert Lie Putong dan ibunya, Yosefien Putong. Keduanya merupakan cucu Oe Khian. 

[7] Keterangan ini disadur dari Silsilah Keluarga Putong yang disusun oleh Grace Putong, 25 Desember 2017. Grace Putong adalah anak dari Albert Lie Putong dan salah seorang cicit Oe Khian.

[8] Kini Jalan Gajah Mada, Kelurahan Ujuna, Kecamatan Palu Barat. Wawancara dengan Moh. Ceng Putong, 26 September 2021.

[9] Jefrianto, Cina Kaili: Catatan Awal Tionghoa di Palu, diakses melalui https://www.journastoria.com/2021/11/cina-kaili-catatan-awal-tionghoa-di-palu.html, 7 Februari 2022.

[10] Ibid

[11] Ibid

[12] Wilayah Palu sendiri pada awal abad 20, terbagi atas dua distrik yakni distrik Oost Paloe (Palu Timur) dan Distrik West Paloe (Palu Barat). Distrik Palu Timur terdiri atas Lere, Baroe, Kamodji, Bandjar, Oedjoena, Loloe, Besoese, Talise, Tatoera, Tanamodindi I, Lasoani, Kawatoena, Poboja, Watoesampoe, Boeloeri, Tipo, Silae, Kabonena, Kalora, Tanamodindi II. Distrik Palu Barat terdiri atas Donggala-Ketjil, Balaroa I, Doejoe, Bojaoge, Noenoe, Tawandjoeka, Pengawoe, Tinggede, Binangga, Baliase, Balane, Porame, Padende, Sibedi, Beka, Bomba, Lebanoe, Balaroa II, Pobolobia, Rondingo, Pompanesibadja, Tomodo, Damgaraa, Gimpoebia, Palenteema, Bambakamini, Wawoegaga, Ongoelara, Bambakaino, Malino, Loemboelama, Soi, Domboe, Ongoelero, Wiapore, Mantantimali, Taipangabe, Wajoe, Doda, Daenggoeni, Tondo, Kawole, Kasiromoe. Lihat Jefrianto, Ibid.

[13] Ibid

[14] Op.Cit, Moh. Ceng Putong.

[15] Dulu bernama Jalan Tondatedayo hingga 1970-an. Wawancara dengan Paulus Putong, 7 Februari 2022. 

[16] Op.Cit, Moh. Ceng Putong.

[17] Op.Cit, Paulus Putong.

[18] Ibid

[19] Ibid, Moh. Ceng Putong. Lihat juga, Grace Putong.

[20] Op.Cit, Paulus Putong.

[21] Jejak sejarah migrasi komunitas Tionghoa di Banjarmasin ditandai dengan keberadaan komunitas Cina Parit yang bermukim di kawasan sungai Parit, Pelaihari, Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Sebutan Cina Parit juga ditujukan kepada pekerja imigran penambang timah yang datang dari pulau Bangka dan Belitung. Maka istilah Cina Parit dipakai secara resmi sebagai identitas komunitas Tionghoa di Kalimantan Selatan. Namun sejak semula kedatangan mereka, orang Tionghoa disebut dengan istilah ‘Urang Cina’ dalam bahasa Banjar. Dalam catatan sejarah disebutkan bahwa komunitas Cina Parit yang ditempatkan di Distrik Maluka didatangkan oleh Alexander Hare, Komisioner Residen Inggris untuk Kalimantan pada 1812. Lihat Roedy Haryo Widjono AMZ, Jejak Migrasi Etnis Tionghoa di Kalimantan, diakses dari https://www.akurasi.id/ragam/catatan/jejak-migrasi-etnis-tionghoa-di-kalimantan/, 7 Februari 2022.

[22] Marga Lie merupakan bentuk ejaan lain untuk penyebutan marga Li. Marga Li sendiri diucapkan ‘Lei’ dalam bahasa Kanton, dan sering dieja ‘Lee’ di Hong Kong, Taiwan, dan oleh banyak masyarakat Tionghoa perantauan. Di Macau, marga Li dieja sebagai ‘Lei’ karena pengaruh Portugis. Di Indonesia, marga Li dieja ‘Lie’ karena pengaruh Belanda. Penyebutan Lie untuk marga Li juga berasal dari bahasa HokKhian. Lihat Herman Tan, Sekilas Mengenai Marga Li, diakses dari https://www.tionghoa.info/sekilas-mengenai-marga-li-%E6%9D%8E/, 7 Februari 2022.

Lie Eng Tjhiang lahir di Banjarmasin pada 10 Desember 1892. Ayahnya bernama Lie Kiam Tjae dan Ibunya bernama Liem Koei Nio. Lie Eng Tjhiang meninggal di Palu pada 30 Agustus 1968. .

[23] Ibid. Rumah tersebut kini menjadi Toko Gaya Baru.

[24] Ibid

[25] Ibid

[26] Op.Cit, Paulus Putong.

[27] Ibid

[28] Ibid. Adapun 12 anak dari Engelbert Lie Eng Tjhiang dan Maria Albertha Putung, yakni Max Putung (Lie Soen Goan) lahir 1928, Anthonina (Lie Soen Eng), lahir 1929), Maria Fransisca (Lie Giok Kiem) lahir 1930, Yosefien (Lie Fien Nio) lahir 1931, Albert (Lie Soen Seng) lahir 1934, Maria (Lie Eng Hoa) lahir 1936, Victorina (Lie Djok Nio) lahir 1938, Maria Magdalena (Lie Sui Hoa) lahir 1940, Paulus (Lie Soen Bie) lahir 1942, Agnes (Lie Mei Hoa) lahir 1943, Petrus (Lie Soen Cae) lahir 1947 dan Paulus (Lie Soen Hong) lahir 1951.

[29] Ibid. Mengganti nama Tionghoa menjadi Indonesia sebenarnya bukanlah sesuatu yang sengaja dilakukan Peranakan Tionghoa untuk mendapatkan pekerjaan atau membaur agar terkesan sebagai “pribumi asli” Indonesia. Bukan pula demi menjadi pasukan mata-mata negara asal, Cina. Beberapa penyebab orang Cina meninggalkan nama aslinya, antara lain karena khawatir dengan isu SARA dan kebiasaan masa Orde Baru. Bahkan hingga sekarang pun tetap sedikit sekali nama-nama asli Cina yang tertera di Kartu Tanda Penduduk (KTP).

“Kebiasaan” Orde Baru ini merujuk pada tahun 1965. Mereka yang tak berganti nama cenderung dikaitkan dengan PKI atau komunis karena dianggap berafiliasi dengan Partai Komunis Cina (PKC) di Cina. Bahkan hubungan diplomasi Indonesia dengan Cina diputus setelah peristiwa Gerakan 30 September yang terkait dengan eksistensi PKI di Indonesia.

Peranakan Tionghoa kemudian harus mengganti nama Cina-nya atas dasar pembuktian nasionalisme. Hal ini diperkuat setelah Presiden Soeharto mengesahkan Keputusan Presiden RI Nomor 240 tahun 1967 Tentang Kebidjaksanaan Pokok Jang Menjangkut Warga Keturunan Asing. Dalam aturan itu, warga negara keturunan asing diimbau agar mengganti nama mereka. Lihat Felix Nathaniel, Hilangnya Identitas Orang Tionghoa Akibat Asimilasi Paksa , dalam https://tirto.id/hilangnya-identitas-orang-tionghoa-akibat-asimilasi-paksa-el92.

Lie Soen Seng (Albert Lie Putong) adalah orang pertama di keluarga yang beralih nama ke nama Indonesia. Namun, akibat kesalahan pengetikan di Pencatatan Sipil, marga Putung berubah menjadi Putong dan akhirnya digunakan sebagian besar keluarga hingga saat ini. Hanya anak pertama Engelbert Lie Eng Tjhiang, yakni Lie Sun Goan (Max Putung) dan keturunannya yang masih menggunakan marga Putung. 

[30] Marga Oei merupakan salah satu bentuk penulisan lain dalam bahasa Hokkian dan Teochiu, untuk marga Huang. Lihat Tanpa Nama, Asal Usul Marga Huang, diakses dari https://www.tionghoa.com/asal-usul-marga-huang-%E9%BB%84/, 7 Februari 2022. 

[31] Yerry Wirawan, 2013, Sejarah Masyarakat Tionghoa di Makassar Dari Abad ke-17 hingga ke-20, Jakarta, KPG, hlm, 88.

[32] Ibid, hlm, 91.

[33] Wawancara dengan Moh. Ceng Putong, 26 September 2021.

[34] Ibid

[35] Ibid

[36] Ibid

[37] Ibid

[38] Ibid

[39] Ibid

[40] Ibid

Post a Comment

1 Comments

  1. Sy cuma mau sampaikan sy juga marga Oe,Bapak sy Oe Tiong Lae,sedangkan sy nama caines Oe Ceng Ho

    ReplyDelete