Hidup Bersama Sisa

FOTO: Penggagas pameran, Kukuh Ramadhan, memandangi karya yang dipamerkan.
FOTO: MINNIE RIVAI


Banyak hal di Kota Palu dinyatakan selesai. Status darurat dicabut, proyek diumumkan rampung, kebijakan ditutup melalui laporan resmi. Namun kehidupan sehari-hari menyisakan kenyataan lain. Yang tertinggal bukan kekosongan, melainkan residu, jejak kebijakan, dampak pembangunan, dan konsekuensi ekologis yang terus bekerja tanpa penjelasan memadai. Dari ketegangan inilah, pameran Sisa: Tahun-tahun yang Tidak Pernah Benar-benar Dimenangkan berangkat.

Pameran tunggal karya Kukuh Ramadhan yang digelar dari 27 Desember 2025 hingga 3 januari 2026 di Rumah Tiara ini, tidak disusun sebagai etalase pencapaian artistik, melainkan sebagai arsip kegelisahan. Karya-karya yang diproduksi dalam rentang delapan tahun terakhir dihadirkan sebagai sisa, bukan sebagai dokumentasi kronologis, melainkan sebagai penanda dari proses-proses yang tidak pernah benar-benar tuntas.

Salah satu karya kunci dalam pameran ini adalah Otonom (The Tale of Ngata) (2019). Dibuat dari sisa-sisa alami gempa 28 September 2018 di pesisir Teluk Palu, karya ini lahir dari program pemulihan berbasis komunitas yang dikembangkan pascabencana. Selama tujuh hari, Otonom dibangun sebagai patung sementara yang spesifik lokasi, dengan merujuk pada folklor lisan masyarakat Kaili, pengetahuan yang menubuhkan relasi manusia dan alam ke dalam bahasa serta ingatan kolektif. Karya ini juga hadir sebagai seni instalasi dalam aksi Tolak Tanggul Teluk Palu, menjadikannya penanda konflik ekologis yang belum selesai antara warga dan logika pembangunan yang kian ekstraktif.

Selain Otonom, pameran ini juga menghadirkan Tanah Cahaya (2025), sebuah karya yang bergerak lebih sunyi, namun tak kalah politis. Menggunakan medium tanah, cahaya, dan patung-patung tanah, karya ini dipadukan dengan instalasi video yang menampilkan aktivitas komunitas serta proses ekologis yang berkaitan dengan lahan dan pertanian. Tanah Cahaya tidak bekerja melalui gestur penolakan langsung, melainkan melalui ingatan dan kelekatan.

Seorang penikmat karya, saat Tanah Cahaya dipamerkan di Jogja Biennale 2025, menggambarkan pengalamannya berhadapan dengan karya tersebut. Ia mengingat dengan jelas penjelasan awal tentang karya ini, dan bagaimana pertemuan antara tanah, cahaya, serta gambar bergerak membawanya pada refleksi tentang rumah sebagai tempat kembali, beristirahat, bertemu orang tua, dan menyimpan percakapan yang terkumpul selama hampir 25 tahun. Dalam pengalaman itu, Tanah Cahaya tidak hanya dibaca sebagai instalasi seni, melainkan sebagai ruang kontemplasi tentang asal-usul, keterikatan pada tanah, dan proses belajar yang tidak pernah selesai. “Ini baru awal dari perjalanan,” demikian kesan yang tertinggal, seolah karya ini menolak ditutup oleh satu tafsir tunggal.

Fragmen-fragmen seperti Otonom dan Tanah Cahaya memperlihatkan bagaimana isu sosial, politik, ekonomi, dan ekologis dalam pameran Sisa tidak dipisahkan sebagai tema-tema terpisah. Seluruhnya dipahami sebagai kondisi yang saling bertaut. Eksploitasi, ketimpangan, kerusakan, dan kepunahan tidak dihadirkan sebagai peristiwa tunggal, melainkan sebagai residu yang bertahan lama setelah sebuah proyek dinyatakan selesai dan perhatian publik bergeser.

Karya lain, Wastra Aksara 80% (2024), lahir dari upaya memadukan pola-pola wastra hasil penelusuran kain kulit kayu di Lembah Bada dan Besoa menjadi aksara. Aksara tersebut disusun mengikuti pola imajiner pembentuk ornamen kain kulit kayu, hingga menjadi satuan simbol visual yang digunakan untuk menulis kembali translasi ungkapan seorang hamba kepada Tuhannya.

Dua karya lainnya, POV Tiran (2025) dan Mengusir Rayap untuk Seni (2025), berdiri sebagai fragmen yang saling menggemakan gagasan serupa, bahwa pembangunan dan pemulihan kerap meninggalkan sisa yang tidak pernah benar-benar diurus.

Sebagai perluasan konteks, pameran ini juga menyertakan pemutaran dokumenter terbatas, bukan untuk menjelaskan karya atau merapikan narasi, melainkan untuk memperlihatkan bagaimana realitas direkam setelah sebuah peristiwa dianggap usai. Di titik ini, “selesai” dipertanyakan sebagai konstruksi administratif, bukan sebagai kondisi nyata.

Pameran Sisa menolak optimisme instan. Ia mengajukan posisi yang tidak nyaman, bahwa hidup di Palu hari ini berarti hidup bersama sisa. Baik melalui puing bencana yang dijadikan struktur, maupun tanah yang disinari cahaya dan dihubungkan dengan ingatan rumah, pameran ini menegaskan satu hal, selama residu-residu itu terus disingkirkan dari percakapan publik, setiap klaim kemenangan hanya akan melahirkan sisa baru dan tahun-tahun berikutnya berisiko kembali menjadi tahun-tahun yang tidak pernah benar-benar dimenangkan.

Post a Comment

0 Comments