Jejak Tanah: Ketika Tanah Menyimpan Ingatan

 


Oleh: Jefrianto

Palu kembali berhadapan dengan tanah pada 28 September 2026. Tepat delapan tahun setelah gempa, tsunami, dan likuefaksi mengubah wajah Palu, Sigi, Donggala dan Parigi Moutong , sebuah pameran seni dibuka di Rumah Tiara Coffee. Namanya Jejak Tanah: Bentang Berlanjut, karya Lucky Arie yang dikuratori Kukuh Ramadhan.

Tanggal 28 September bukan dipilih secara kebetulan. Bagi Palu, tanggal itu bukan sekadar penanda waktu. Ia membawa ingatan tentang tanah yang berguncang, air laut yang datang, permukiman yang berubah, dan orang-orang yang harus menjalani hidup setelah bencana. Melalui pameran ini, Lucky Arie mencoba melihat kembali hubungan manusia dengan tanah, bukan hanya sebagai tempat tinggal, tetapi sebagai sesuatu yang menyimpan banyak cerita dan pengalaman.

Tanah, dalam pameran ini, tidak hanya dilihat sebagai bahan untuk membuat tembikar. Tanah juga dipandang sebagai bagian dari kehidupan manusia. Di dalamnya ada jejak perjalanan, kebiasaan, pekerjaan, bahkan ingatan yang mungkin tidak lagi bisa diceritakan secara lengkap.

Salah satu cara Lucky Arie menerjemahkan gagasan tersebut, terlihat pada diorama fragmen bentang alam yang menjadi bagian dari pameran. Diorama itu tidak dibuat dari tanah yang diambil sembarangan. Materialnya dikumpulkan dari sejumlah lokasi yang berkaitan dengan jejak para pengrajin tembikar, antara lain Bada, Bulu Masomba, dan kawasan pegunungan di sebelah barat Palu, salah satunya Duyu.

“Diorama ini mengambil tanah dari beberapa lokasi para pengrajin tembikar, seperti Bada, Bulu Masomba, dan pegunungan di sebelah barat Palu, salah satunya Duyu,” kata Lucky Arie.

Bagi Lucky, tanah dari lokasi-lokasi tersebut bukan sekadar bahan pembentuk diorama. Ia membawa cerita tentang bagaimana masyarakat tempatan pernah hidup bersama bentang alam di sekitarnya. Karena itu, diorama tersebut dikreasikan dengan menggambarkan daya hidup masyarakat pada periode ketika tembikar menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka.

Gambaran yang ingin dihadirkan adalah masyarakat yang bermukim di punggungan gunung dan bukit. Di lingkungan seperti itu, tembikar bukan sekadar benda yang dibuat untuk kemudian disimpan. Ia menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari: digunakan untuk memasak, hadir dalam berbagai ritual adat, hingga menjadi bekal kubur.

Dengan demikian, sebuah tembikar tidak berhenti sebagai benda. Di balik bentuk dan bahannya terdapat cara hidup. Ada hubungan manusia dengan tanah, dengan lingkungan tempat mereka tinggal, dengan tradisi, dan dengan keyakinan tentang kehidupan serta kematian.

Dari sinilah pameran tersebut mulai memperlihatkan hubungan antara benda dan kehidupan manusia. Sebuah benda yang dibuat dari tanah liat bisa bertahan puluhan atau bahkan ratusan tahun. Kita mungkin masih dapat melihat bentuk sebuah tembikar ketika orang yang membuatnya sudah lama tidak ada. Namun, kita tidak selalu bisa mengetahui bagaimana tangannya bekerja, bagaimana ia belajar membuatnya, siapa yang mengajarinya, atau pengalaman apa yang menyertai proses pembuatannya.

Di situlah pertanyaan utama pameran ini muncul, yakni kalau sebuah benda masih ada, apakah pengetahuan orang yang membuatnya juga masih ada?

Lucky Arie mencoba mencari jawabannya melalui pertemuannya dengan tanah, tembikar, bentang alam, suara, gambar, dan orang-orang yang masih menyimpan pengetahuan tentang benda-benda tersebut.

Menariknya, Lucky Arie bukan seorang perajin tembikar. Ia adalah seorang sinematografer. Selama bertahun-tahun, ia terbiasa bekerja dengan kamera, cahaya, ruang, gerak, dan gambar. Ketika berhadapan dengan tanah liat, ia justru memasuki wilayah yang tidak sepenuhnya ia kuasai.

Ketidaktahuan itu tidak dianggap sebagai masalah. Sebaliknya, dari situlah percobaan dimulai.

Apa yang biasanya dilakukan dengan kamera dicoba dilakukan dengan tangan dan tanah. Jika kamera digunakan untuk memilih sudut pandang, tangan harus berhadapan langsung dengan bentuk tanah. Jika film membutuhkan waktu untuk membangun sebuah adegan, tembikar membutuhkan waktu untuk dibentuk, dikeringkan, dibakar, bahkan bisa pecah sebelum menjadi benda yang diinginkan.

Ada proses yang tidak bisa dipercepat.

Tanah juga tidak selalu mengikuti keinginan manusia. Ia bisa terlalu basah, terlalu kering, berubah bentuk, atau pecah ketika dibakar. Dalam proses seperti itu, pengalaman tidak hanya datang dari pengetahuan yang sudah dimiliki, tetapi juga dari kesalahan dan percobaan.

Karena itu, membuat tembikar menjadi semacam cara lain bagi Lucky Arie untuk memahami bagaimana pengetahuan bekerja. Pengetahuan tidak selalu berada di dalam buku atau rekaman. Kadang ia berada di tangan seseorang, di dalam kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang, atau dalam gerakan tubuh yang bahkan sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Hal itu terlihat ketika Lucky Arie bertemu dengan seorang perajin tembikar yang telah lanjut usia. Pertemuan tersebut bukan hanya untuk merekam cerita tentang tembikar. Ada sesuatu yang lebih penting: bagaimana pengetahuan itu masih hidup melalui tubuh orang yang menguasainya.

Gerakan tangan, cara memegang tanah, kebiasaan saat membentuk benda, suara ketika bekerja, dan pengalaman selama bertahun-tahun adalah bagian dari pengetahuan tersebut. Sebagian bisa direkam dengan kamera. Sebagian bisa diceritakan. Tetapi tidak semuanya bisa dipindahkan begitu saja.

Ketika seseorang memperlihatkan cara membuat tembikar kepada orang lain, misalnya, tidak berarti seluruh pengalamannya otomatis berpindah. Orang yang belajar akan mengulang gerakan yang sama, tetapi hasilnya mungkin berbeda. Ia akan membawa pengalaman dan caranya sendiri.

Pengetahuan, dengan demikian, tidak pernah benar-benar berpindah dalam bentuk yang persis sama.

Gagasan itu kemudian diperluas melalui bentang alam. Salah satu karya dalam pameran menggunakan photogrammetry 3D untuk merekam gua purba. Dengan teknologi tersebut, sebuah ruang dapat dipotret dari banyak sisi dan kemudian disusun menjadi gambaran tiga dimensi.

Cara ini memungkinkan sebuah tempat disimpan dalam bentuk gambar dan data. Orang dapat melihat kembali bentuk sebuah ruang meskipun tidak sedang berada di sana.

Namun, gambar tiga dimensi tentu tidak sama dengan pengalaman berada langsung di dalam gua. Data dapat menyimpan bentuk ruang, tetapi tidak sepenuhnya menyimpan udara yang dirasakan tubuh, suara yang terdengar, bau tanah, rasa takut, atau pengalaman ketika seseorang benar-benar berdiri di dalamnya.

Di sinilah pameran ini mengajak kita berpikir tentang perubahan cara manusia mengalami dunia.

Hari ini, banyak hal dapat dilihat melalui layar. Gunung dapat dilihat tanpa didaki. Gua dapat dilihat tanpa dimasuki. Benda bersejarah dapat dilihat melalui foto tanpa pernah disentuh. Bahkan sebuah tempat yang jauh dapat kita kunjungi melalui gambar hanya dengan menggeser layar telepon.

Teknologi membuat banyak hal menjadi lebih mudah dilihat dan disimpan. Tetapi pengalaman melihat melalui layar tidak selalu sama dengan berada langsung di tempat tersebut.

Persoalan serupa muncul dalam karya geo stencil, yaitu jejak patahan tanah yang dipindahkan ke permukaan lain menggunakan arang. Jika photogrammetry menggunakan kamera dan teknologi digital, karya ini menggunakan sentuhan langsung.

Jejak tanah dipindahkan melalui tangan. Tetapi hasil akhirnya tetap bukan tanah yang asli. Ia adalah gambaran tentang jejak tanah yang telah melalui tangan manusia.

Dengan cara berbeda, kedua karya tersebut menunjukkan hal yang sama: setiap kali manusia mencoba menyimpan sesuatu, selalu ada bagian yang berubah.

Hal itu juga berlaku pada ingatan.

Kita bisa merekam suara seseorang, memotret wajahnya, menulis ceritanya, atau menyimpan benda yang pernah digunakannya. Namun, semua itu tidak akan pernah sama persis dengan pengalaman ketika orang tersebut masih hadir di hadapan kita.

Karena itu, Jejak Tanah: Bentang Berlanjut tidak berusaha menyimpan masa lalu dalam bentuk yang utuh. Pameran ini justru menunjukkan bahwa sesuatu dapat terus hidup meskipun mengalami perubahan.

Pengetahuan seorang perajin dapat berpindah kepada orang lain. Benda yang dibuatnya dapat menjadi koleksi. Koleksi dapat menjadi bagian dari pameran. Pameran kemudian dilihat oleh orang lain dan melahirkan pemahaman baru.

Ada yang hilang dalam setiap perpindahan itu. Tetapi selalu ada sesuatu yang baru muncul.

Di ruang pamer, gagasan tersebut hadir melalui beberapa karya: diorama fragmen bentang alam, gambar tiga dimensi gua purba, video wawancara perajin tembikar khas Lembah Lore dan Palu, suara lingkungan, jejak patahan purba yang dibuat dengan arang, serta karya reparasi tembikar khas Lembah Lore. Semua karya itu tidak berdiri sebagai cerita yang sudah selesai. Pengunjung diberi ruang untuk menghubungkan sendiri berbagai potongan tersebut.

Karena itu, pameran ini lebih tepat dipandang sebagai sebuah perjalanan daripada kumpulan benda yang dipajang.

Tanah membawa jejak. Tubuh menyimpan pengalaman. Tangan membuat benda. Benda menyimpan sebagian cerita. Kamera merekamnya. Ingatan kemudian menyusun kembali apa yang masih tersisa.

Dan di antara semua proses itu, selalu ada sesuatu yang hilang.

Tetapi mungkin justru karena tidak pernah utuh itulah sebuah cerita terus dicari.

Delapan tahun setelah bencana 28 September 2018, Jejak Tanah: Bentang Berlanjut mencoba mengajak publik Palu melihat kembali tanah di sekitarnya. Bukan hanya sebagai tempat yang pernah diguncang bencana, tetapi sebagai ruang yang terus menyimpan cerita tentang manusia, pengetahuan, benda, dan perubahan.

Pameran yang berlangsung hingga 4 Oktober 2026 ini juga dilengkapi sesi wicara, simposium, praktik membuat tembikar, percakapan tentang pengetahuan dan ekstraktivisme, kegiatan bersama komunitas, serta pertunjukan audiovisual.

Dengan mempertemukan seniman, perajin, kurator, komunitas, akademisi, dan publik, pameran ini pada dasarnya sedang melakukan satu hal sederhana: membuka kembali percakapan tentang tanah yang kita pijak, benda yang kita gunakan, pengetahuan yang kita warisi, dan ingatan yang kita bawa setelah sebuah bencana.

Sebab tanah mungkin diam. Tetapi jejak yang ditinggalkannya tidak pernah benar-benar selesai bercerita.

 

Post a Comment

0 Comments