Uap menyeruak dari belanga yang berdiri di atas tungku sederhana ketika Oscar menuangkan air yang baru mendidih melalui saringan ke dalam cerek kuningan. Api di bawahnya terus dijaga dengan arang kayu bakar. Bubuk kopi yang telah diracik dibasahi perlahan oleh air panas, kemudian seduhannya dituangkan kembali melalui saringan ke gelas-gelas yang telah disiapkan. Sebagian gelas telah diberi susu kental manis, sementara sebagian lainnya dibiarkan hitam tanpa campuran.
Pagi itu, kopi
tersebut datang bersama menu-menu yang telah menjadi bagian dari keseharian
Warkop Harapan, yakni telur setengah matang, nasi kuning, jomu-jomu, pisang
goreng dan roti bakar dengan selai kaya. Ada pula roti bakar yang dicampur
telur kocok, menu yang dahulu sering dipesan Rully Lamadjido, Wali Kota Palu
periode 1995–2000, hingga kemudian dikenal pelanggan dengan nama Roti
Lamadjido. Jomu-jomu dibuat dari pisang masak yang dipotong kecil-kecil,
dicampur tepung, kemudian digoreng dan disantap bersama sambal racikan sendiri,
sementara pisang goreng juga kerap menjadi teman minum kopi bagi pengunjung.
Semua itu tersaji
di sebuah warung kopi di simpang empat Jalan Danau Poso dan Jalan Sungai
Moutong, Kelurahan Ujuna, Kecamatan Palu Barat. Sepeda motor dan mobil mulai
memenuhi sisi jalan sejak pagi, sementara dari bangunan dua lantai itu
terdengar percakapan yang bersahutan dengan bunyi cangkir dan sendok.
Pengunjung datang dari berbagai latar belakang, mulai dari pejabat daerah,
pebisnis, wartawan, hingga masyarakat umum. Mereka duduk di meja-meja yang
sama, memesan kopi dan makanan yang sama, lalu berbincang dalam suasana yang
membuat perbedaan jabatan maupun kelas sosial tidak terlalu terlihat.
“Aroma khas dari
arang kayu bakar inilah yang membuat cita rasa kopi menjadi lebih khas,” ujar
Oscar Tan, pemilik warung kopi tersebut.
Di balik
secangkir kopi dan menu-menu sederhana tersebut, terdapat perjalanan yang jauh
lebih panjang. Warung yang kini dikelola Oscar, merupakan bagian dari usaha
keluarga yang, menurut cerita yang diwariskan turun-temurun, dirintis Tan A Kui
pada 1953 setelah perantau asal Guangdong itu membangun kehidupannya di Palu.
Empat generasi kemudian, resep kopi, cara pengolahan dan sebagian menu masih
dipertahankan, sebagai bagian dari identitas Warkop Harapan.
Warung kopi
semacam ini bukan hanya tempat orang datang untuk makan dan minum. Dalam
sejarah kopitiam di Asia Tenggara, kedai kopi juga berkembang sebagai ruang
sosial yang mempertemukan orang dengan latar belakang berbeda. Antropolog Lai
Ah Eng, dalam kajiannya mengenai kopitiam di Singapura menunjukkan, kedai kopi
tumbuh dari tempat sederhana yang melayani para migran menjadi bagian dari
kehidupan sehari-hari masyarakat, tempat orang dari berbagai usia, etnis,
pekerjaan dan tingkat pendapatan dapat makan, minum, berbincang, serta berbagi
ruang.
Di Palu, sejarah
Warkop Harapan berkembang melalui jalur yang berbeda, tetapi tetap
memperlihatkan bagaimana warung kopi dapat menjadi titik pertemuan antara
migrasi, perdagangan, keluarga, dan kehidupan sehari-hari.
Menurut Oscar,
kakek buyutnya, Tan A Kui, berasal dari Kwantung, nama lama yang digunakan
untuk menyebut Guangdong di Cina selatan. Tidak ada catatan resmi yang
diketahui keluarga mengenai kapan tepatnya A Kui pertama kali menginjakkan kaki
di Palu, tetapi keluarga memperkirakan ia tiba sekitar dekade 1940-an,
mengikuti arus migrasi masyarakat Tionghoa ke Palu dan wilayah sekitarnya.
Migrasi tersebut
tidak selalu berlangsung secara langsung dari Cina ke Palu. Sebagian perantau
Tionghoa lebih dahulu tinggal atau bekerja di kota-kota pelabuhan lain seperti
Surabaya, Manado, atau Banjarmasin, sebelum melanjutkan perjalanan ke wilayah
Sulawesi Tengah. Donggala dan Wani menjadi salah satu pintu masuk penting
menuju wilayah Palu yang pada masa itu berkembang sebagai ruang perdagangan,
dengan hubungan yang semakin luas dengan kawasan pesisir dan kota-kota
pelabuhan lainnya.
Kawasan Ujuna
kemudian menjadi salah satu ruang penting bagi perkembangan aktivitas ekonomi
masyarakat Tionghoa di Palu. Bagi A Kui, kawasan tersebut bukan sekadar tempat
tinggal dan berdagang, tetapi juga menjadi titik awal perjalanan usahanya.
Menurut cerita keluarga, ketika pertama tiba di Palu, ia tidak langsung membuka
warung kopi. Ia lebih dahulu menekuni usaha tempat hiburan rakyat di kawasan
Ujuna, di wilayah yang kini dikenal sebagai kawasan Palu Plaza dan pada masa
itu merupakan lokasi lapangan sepak bola Nokilalaki.
Dari usaha
hiburan rakyat itulah, perjalanan A Kui kemudian beralih ke warung kopi. Pada
1953, ia mendirikan Warkop Harapan di bilangan simpang empat Jalan Danau Lindu
dan Jalan Gadjah Mada, sebelum usaha tersebut diteruskan oleh anak-anaknya dan
kemudian berkembang melalui generasi berikutnya.
Namun, yang
diwariskan A Kui kepada keluarganya bukan hanya sebuah usaha, melainkan juga
pengetahuan tentang bagaimana kopi dibuat dan disajikan.
Menurut cerita
yang diwariskan kepada Oscar, A Kui memperoleh pengetahuan tentang meracik kopi
setelah kembali ke Cina dan mempelajari cara pengolahan kopi yang kemudian
dibawanya kembali ke Palu. Cerita keluarga tersebut memiliki persinggungan
dengan sejarah tradisi kopi Hainan yang berkembang dalam jaringan migrasi
masyarakat Tionghoa di Asia Tenggara, meskipun hubungan langsung antara A Kui
dan komunitas kopi Hainan tidak dapat dibuktikan hanya berdasarkan sumber
sejarah yang tersedia.
Tradisi tersebut
sendiri memiliki sejarah yang cukup kuat. Lai Ah Eng mencatat bahwa banyak
orang Hainan pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 bekerja sebagai juru masak,
pelayan, dan pekerja domestik di rumah-rumah Eropa dan Peranakan. Pengalaman
bekerja di lingkungan tersebut kemudian menjadi modal keterampilan ketika
mereka beralih ke bisnis makanan dan minuman, termasuk membuka kopitiam,
bakery, kedai makanan, serta usaha pengolahan kopi.
Memasuki dekade
1920-an hingga 1950-an, orang Hainan secara bertahap membangun ceruk usaha
kopitiam di berbagai tempat. Mereka tidak hanya menjalankan kedai, tetapi juga
mengembangkan pengolahan kopi dan makanan sesuai dengan lingkungan tempat
mereka hidup. Lai mencatat bahwa pedagang kopi dan pengelola kopitiam Hainan
mengembangkan resep serta teknik tersendiri dalam menyangrai dan menyeduh kopi.
Dengan konteks
tersebut, cara pembuatan kopi di Warkop Harapan memiliki kemiripan dengan
tradisi kopi Hainan yang berkembang dalam dunia perantauan Tionghoa di Asia
Tenggara. Penggunaan saringan, seduhan kopi yang kuat, proses penyajian dengan
susu kental manis dan cara pengolahan yang dikerjakan secara manual,
memperlihatkan adanya karakter yang sejalan dengan tradisi kopitiam tersebut.
Lai juga mencatat perkembangan resep serta teknik roasting dan brewing yang
khas di kalangan pedagang kopi Hainan.
Tetapi bagi
keluarga Oscar, sejarah itu tidak berhenti sebagai pengetahuan tentang
asal-usul kopi. Ia berubah menjadi kebiasaan yang harus dikerjakan setiap hari.
Dari 14 anak Tan A Kui, hanya dua yang menurut Oscar meneruskan usaha warung
kopi sang ayah, yakni A Wong dan A Weng. Pada 1995, A Wong membuka warung kopi
sendiri di bilangan Jalan Danau Poso, warung yang kemudian dikelola oleh Oscar.
“Kami tidak
mengubah resep dari zaman kakek. Yang berubah paling-paling cuma jumlah gelas
yang harus kami siapkan tiap pagi,” kata Oscar.
Pewarisan itu
terlihat bukan hanya dari resep kopi, tetapi juga dari cara keluarga mengelola
bahan bakunya. Oscar mengatakan biji kopi diperoleh dari petani di wilayah
Kulawi, Napu, dan Palolo, kemudian disangrai langsung oleh ibunya. Proses
roasting tetap menggunakan api dari kayu bakar untuk mempertahankan rasa yang
selama ini dikenal pelanggan.
Di titik
tersebut, perjalanan kopi Warkop Harapan telah mengalami perubahan. Pengetahuan
yang menurut cerita keluarga dibawa dari dunia perantauan Tionghoa, kini
menggunakan biji kopi yang berasal dari wilayah pegunungan Sulawesi Tengah,
diolah oleh keluarga yang telah berakar di Palu dan disajikan kepada pelanggan
yang sebagian besar telah mengenal rasa tersebut sebagai bagian dari kehidupan
kota mereka sendiri.
Secangkir kopi
yang tersaji di meja akhirnya membawa beberapa perjalanan sekaligus, yakni
perjalanan manusia dari Cina selatan ke Asia Tenggara, perjalanan sebuah
keluarga dari generasi ke generasi, serta perjalanan kopi dari kebun-kebun di
Kulawi, Napu, dan Palolo menuju sebuah warung di Ujuna.
Perjalanan itu
juga memperlihatkan bahwa warisan kuliner tidak selalu bertahan dalam bentuk
yang sepenuhnya utuh. Ia dapat berubah mengikuti tempat, bahan, selera, dan
orang-orang yang mewarisinya. Yang bertahan bukan hanya resep, tetapi juga cara
memperlakukan sebuah resep sebagai bagian dari identitas keluarga.
Karena itu,
Warkop Harapan tidak cukup dilihat hanya sebagai salah satu warung kopi lama di
Kota Palu. Ia merupakan ruang tempat sejarah migrasi Tionghoa, perkembangan
ekonomi kota, pengetahuan kuliner, dan kehidupan sosial sehari-hari bertemu
dalam bentuk yang sangat sederhana. Di meja-mejanya, seorang pejabat dapat
duduk tidak jauh dari wartawan atau pelanggan biasa; di dapurnya, kopi dari
pegunungan Sulawesi Tengah diproses dengan cara yang dipertahankan keluarga
selama puluhan tahun.
Lai Ah Eng
menunjukkan bahwa kopitiam dapat bertahan bukan semata-mata karena makanan dan
minuman yang dijual, tetapi juga karena kemampuannya menyediakan ruang
keakraban dan rasa kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari. Kedai kopi menjadi
tempat orang datang bukan hanya untuk mengonsumsi makanan, tetapi juga untuk
bertemu, berbicara, dan menikmati kehadiran orang lain.
Fungsi semacam
itu masih terasa di Warkop Harapan ketika Kota Palu telah mengalami perubahan
besar. Coffee shop dengan mesin espresso, desain interior modern, dan menu yang
mengikuti tren baru semakin mudah ditemukan, tetapi Oscar tidak melihat
perubahan tersebut sebagai alasan untuk mengubah seluruh karakter warungnya.
“Kami sudah punya
pelanggan sendiri. Orang datang ke sini bukan cari suasana kekinian, tapi cari
rasa yang sama seperti puluhan tahun lalu,” ujarnya.
Bagi Oscar,
mempertahankan warung bukan berarti menolak perubahan zaman, melainkan
mempertahankan sesuatu yang masih dicari orang. Resep kopi tetap sama, proses
pengolahan tetap dikerjakan keluarga, arang kayu masih menjadi bagian dari
prosesnya, dan menu-menu lama tetap tersedia di antara berbagai pilihan baru
yang bermunculan di Kota Palu.
Nama “Harapan”
yang diberikan Tan A Kui pada usaha keluarganya mungkin pada awalnya hanyalah
sebuah nama. Namun setelah lebih dari tujuh dekade, harapan tersebut
mendapatkan bentuk yang lebih konkret, yakni sebuah warung yang masih buka
setiap pagi, sebuah resep yang belum berubah dan generasi berikutnya yang masih
berdiri di depan tungku untuk menyiapkan kopi dengan cara yang sama.
Ketika air
mendidih kembali dituangkan melalui saringan dan kopi mengalir ke gelas-gelas
yang telah menunggu di atas meja, yang tersaji bukan hanya minuman yang
mengawali pagi. Di dalamnya terdapat perjalanan sebuah keluarga perantau,
perubahan sebuah kota, perjumpaan berbagai kelompok masyarakat, dan pengetahuan
kuliner yang berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya hingga
akhirnya menjadi bagian dari keseharian Palu.


0 Comments